Saya tertarik menonton film ini bukan karena kalimat-kalimat puitis yang bikin baper
itu. Bukan. Tetapi karena film ini menggambarkan suasana kota Bandung
tahun 1990. Singkatnya, tokoh Dilan dan Milea di dalam di film tersebut
bersekolah di SMA di daerah Buahbatu (tahu sendirilah, pasti SMAN 8
Bandung), jadi tentu shooting film mengambil setting
kota Bandung tahun 1990. Tahun 1990 itu saya masih kuliah di ITB, belum
lulus, dan kesibukan saya lebih banyak menjadi pengajar di Bimbel
Karisma Salman ITB. Di Bimbel itu saya bertemu banyak anak SMA dari
berbagai sekolah di Bandung. Jadi, ini semacam nostalgia saja. Bagi
saya, kota Bandung adalah kota kecintaan saya yang kedua setelah kota
Padang tempat kelahiran saya. Saya kuliah di sini, di ITB, dan akhirnya
bekerja menjadi dosen di almamater saya hingga sekarang.
Menurut saya setelah menonton film Dilan, jujur saja filmnya memang
bagus, jalan ceritanya menarik. Ini memang kisah cinta remaja. Saya jadi
teringat masa-masa remaja di SMA, tetapi memang jalan cerita saya tidak
sama dengan Dilan, he..he.Namun, ada beberapa adegan yang menurut saya cukup mengganggu dan kurang nyaman dilihat. Di dalam film ada adegan Dilan mengamuk, menyerang, dan memukul gurunya, Pak Suripto, pada saat upacara bendera. Memang Pak Suripto salah juga sih, dia menarik kerah baju Dilan lalu menamparnya di depan siswa lain. Itu memang sikap guru yang tidak pantas karena melakukan kekerasan kepada siswa. Tidak jelas juga apa kesalahan Dilan sehingga dia ditampar. Tapi menurut saya tidak selayaknya adegan guru menampar murid dan Dilan menghantam Pak Guru ditampilkan di dalam film tersebut mengingat banyaknya kasus kekerasan antara murid dan guru saat ini. Guru melakukan kekerasan kepada murid, murid membunuh gurunya. Hii….sungguh zaman sekarang makin kacau.
Saya khawatir adegan Dilan menyerang guru nanti jadi pembenaran bagi murid lain untuk membalas dengan kekerasan pula jika guru memarahi murid dengan tangan. Heran saja adegan tersebut bisa lolos sensor. Saya tidak tahu apakah di dalam novelnya ada alur cerita demikian (saya tidak membaca novel Pidi Baiq), tetapi ada atau tidak di dalam novel aslinya tidak perlulah ditampilkan adegan tersebut secara vulgar di dalam film. Saya sebagai guru (dosen) saja tidak nyaman melihat seorang guru diserang, dipukul, dan dihantam, apalagi Dilan memanggil gurunya dengan nama saja, Suripto, tanpa kata Pak di depannya. Itu saja tidak sopan menurut saya.
Selain adegan di atas, ada adegan lain yang saya juga kurang nyaman melihatnya, yaitu adegan romantis Milea memeluk Dilan yang boncengan di atas sepeda motor. Saya tidak tahu di dalam novel aslinya apa juga demikian, atau hanya kreativitas sutradara saja yang membuat visualisasinya demikian. Anak SMA lho itu, bukan cerita orang dewasa. Film ini menurut klasifikasinya untuk usia 13+, tetapi saya lihat banyak anak-anak juga ikut nonton bersama orangtuanya, dan petugas bioskop pun tidak melarangnya.
Saya khawatir saja adegan mesra tersebut ditiru remaja kita dan menganggapnya perbuatan biasa, padahal bisa mengarah ke perbuatan selanjutnya yang dilarang agama. Penonton film Dilan kebanyakan remaja. Usia remaja belum bisa memfilter mana adegan yang baik dan mana yang kurang pantas. Untung anak saya yang duduk di SD batal ikut menonton, padahal tadinya dia ngotot mau ikut. Coba kalau ikut, tentu saya merasa jengah melihat dia menyaksikan kemesraan dua anak SMA yang berpacaran. Menurut saya sebuah film tidak hanya berisi tontonan, tetapi seharusnya juga berisi tuntunan yang mendidik. Memang pada zaman sekarang sudah biasa kita lihat para remaja berpacaran seperti sudah menjadi suami istri saja, peluk-pelukan, pegangan tangan, ciuman, dan akhirnya berbuat zina yang lebih dalam lagi. Tapi yang sudah biasa itu tidak boleh kita anggap benar. Saya memang termasuk kolot dalam mendidik anak, wanti-wanti saya melarang ini itu, ini tak boleh itu tak boleh, bergaul sama siapa saja. Boleh badung sepert Dilan, tetapi jangan mendekati zina yang dilarang agama. Itu saja.
Lebih baru
Terlama
